Done.

Skripsi yang senantiasa tertunda karena ibu dospem tak ada kabar. Kepanitiaan yang ujung-ujungnya entah mau dibawa kemana. Mau buru-buru sempro biar bisa plong atinya. Mata kuliah yang makin ribet meski jumlah makin sedikit. Habis lulus juga mau ngelamar kerja dimana dan jadi apa. Musim penghujan yang potensi bikin fisik dan mental menurun. You know what? … Continue reading Done.

Advertisements

Membaca Orang

pesan dari angin

Dulu sewaktu kecil aku suka membaca buku. Apa saja. Apalagi yang bergambar. Aku pun jatuh cinta pada ensiklopedia. Dia mengajarkan banyak hal. Setidaknya hal-hal itu masih mampu aku kaitkan dengan keseharianku di masa kecil. Dunia menjadi lebih rumit ketika dewasa (atau menjelang dewasa). Menjelang dewasa, aku sudah bosan dengan buku-buku. Maka aku membaca yang lain, aku membaca orang. Ya, membaca gelagatnya, memperhatikan fitur wajahnya, menikmati suaranya. Semua itu ibarat basic skill tiap orang. Ada orang yang peka, ada yang cuek-cuek saja, atau bahkan berpura-pura cuek nyatanya ia amat memperhatikan.

Membaca orang itu seru. Bisa kukatakan lebih seru daripada membaca buku. Karena buku adalah salah satu produk orang, masuk akal jika bisa dibilang kita juga membaca orang dengan membaca buku. Tetap saja alam semesta yang luas itu ada di orang itu. Amat luas, kita bahkan merasakan diterbangkan olehnya, dibuai olehnya, atau mungkin dihancurkan olehnya. Namun alam semesta tidak diam, bahkan bintang…

View original post 178 more words

That One About Sensitivity

(#NulisRandom2015 day 5) "Apa-apa jangan dibawa hati deh." "Jadi orang jangan terlalu sensitif lah. Gak baik." "Jangan dianggep lah mereka yang suka nimpali omongan kamu, jelas aja mereka cuman ngeliat dari sisi mereka aja." Well, mungkin ini momen dimana mulut pengen ngebales dengan ucapan "ngomong emang gampang!" Apa salahnya jadi orang yang sensitif? Bukannya berarti … Continue reading That One About Sensitivity